Minggu, 10 Mei 2009

Generasiku, di Dalam Bumi yang Semakin Hangat

Disaat kita sedang membaca tulisan ini, tanpa disadari, bumi kita sedang menghangat. Percaya atau tidak, bukti ilmiah dari UNFCCC - lembaga di PPB yang merangkum hasil penelitian dari seribu lebih ilmuan internasional - mengatakan bahwa sepanjang 12 tahun kebelakang merupakan tahun terpanasnya permukaan bumi dibanding dengan temperatur di tahun 1850.Di tahun inilah zaman Revolusi Industri dimulai (lihat pelajaran sejarah SMA). Sejak masa itu manusia mulai sadar bahwa batubara dan minyak bumi bisa digunakan sebagai bahan bakar kehidupan mereka. Membakar batubara (demikian juga minyak bumi) berarti melepas unsure Karbon dari perut bumi. Keadaan in terus berlangsung hingga kini, hidup kita bergantung pada bahan bakar fosil (BBM, batubara), dan hampir tidak bisa lepas dari mereka.

Hingga April 2009 jumlah manusia di dunia tercatat telah mencapai 6.77 milyar. Dengan jumlah ini, aktifitas manusia telah mampu merubah komposisi atmosfir bumi, menggangu perputaran alamiah iklim dunia saat ini. Inilah yang disebut dengan Perubahan Iklim (Climate Change).

Kita dianugerahi atmosfir bumi yang berfungsi sebagai selimut tipis yang menjaga temperatur bumi. Tidak terlalu panas, ataupun dingin; sehingga kita saat ini bisa hidup dengan nyaman dalam temperatur rata-rata bumi 15oC. Namun, manusia terus melepaskan emisi Gas Rumah Kaca / Greenhouse Gas (GRK) membuat selimut ini semakil tebal, menahan panas, menyebabkan Pemanasan Global (Global Warming).



Proses penghangatan bumi karena penebalan Gas Rumah Kaca (UNEP)

Mungkin kita berpikir ‘Terus kenapa?’. ‘Apa kaitannya dengan lingkunganku yang saat ini saya rasa ‘nyaman-nyaman saja?’. Untuk memulai, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak keluar dari dunia kecil keseharian anda dan lihat beberapa fakta dari bagian lain bumi yang menunjukkan bahwa:

• Bumi memanas. Laju pemanasan dalam kurun 50 tahun kebelakang hampir dua kali lipat dari 100 tahun lalu. Dalam abad ke-20 suhu rata-rata bumi meningkat sekitar 0.74oC dan mempengaruhi baik kawasan daratn maupun lautan.

• Semakin banyak Karbon DIoksida di udara (COo2). COo2 adalah penyebab utama perubahan iklim (climate change) saat dan terus meningkat sejak jaman Pra-Industrial (1850).

• Lebih banyak air, namun tidak di semua tempat. Curah hujan meningkat di kawasan Amerika Utara dan Selatan, Eropa Utara dan Asia Tengah dan Utara dalam dekade kebelakang ini. Namun, di dangkalan Sahul, Mediterania, selatan Afrika dan selatan Asia banyak yang mengalami kekeringan. Kekeringan yang semakin sering dan berkepanjangan juga telah teramati. Bagaimanakah yang terjadi di negaramu?

• Peningkatan tinggi muka air laut (TMAL). IPCC telah mengamati diantara abad 19 dan 20, rata-rata TMAL dunia meningkat 0.17 meter. Sedikit?. Tidak juga, ternyata hasil pengamatan geologis mengatakan 20 abad yang lalu rata-rata TMAL jauh lebih rendah. Bahkan, perubahan ‘kecil’ ini mampu mempengaruhi suhu laut hingga kedalaman 3000 meter.

• Berkurangnya tutupan salju dunia. Disaat musim semi, di kebanyakan tempat terjadi penurunan tutupan salju. Sejak 1900, di belahan bumi utara, luasan maksimum dataran beku di musim semi/dingin telah menurun sebesar 7 persen, dan rata-rata sungai membeku 6 hari lebih lambat dibanding seabad lalu dan es mulai pecah 6.5 hari lebih awal.

• Gletser terus berkurang. Gletser di pegunungan berserta tutupan saljunya semakin berkurang, di kedua belahan bumi dan menyebabkan peningkatan TMAL hingga 0.77 milimeter per tahun antara 1993 dan 2003. Penyempitan hamparan es di Greenland dan Antartika memberikan peningkatan TMAL sebanyak 0.4 milimeter antara 1993 dan 2003.

• Arktik semakin panas. Rata-rata temperatur Arktik meningkat lebih dari dua kali lipat rata-rata temperatur bumi dalam 100 tahun kebelakang. Data satelit sejak tahun 1978 menunjukkan bahwa setiap 10 tahun, luasan es di Arktik berkurang sekitar 2.7% per dekadenya.


Menebalkan Selimut Bumi

Dari uraian fakta seputar Perubahan Iklim diatas kita sekarang tahu bahwa: bumi memanas, es mencair. Bahkan hingga kalimat ini dibentuk, penulis-pun belum pernah menyentuh salju. ‘Perlukah kita perduli dengan keadaan ini?‘. Sebelum menjawab, pastikan dulu kita tahu dampaknya jika kita terus menyumbang emisi, menebalkan selimut bumi, antara lain:

• Semakin panas, semakin banyak resikonya. Iklim kita tidak langsung berubah ketika gas emisi dilepas ke udara. Penumpukan gas emisi membutuhkan beberapa tahun atau dekade lamanya untuk menumpuk di atmosfir. Lautan juga ikut menyerap panas, namun menahan lebih lama, sehingga peningkatan panas bumi juga berlangsung perlahan. Sebagai hasilnya - banyak dari kita tidak menyadarinya.

• Terganggunya siklus Hidrologi di sekitar kita. Atmosfir yang hangat akan semakin banyak menahan uap air. Semakin banya uap air ditahan, semakin banyak hujan turun. Namun panas belebih juga memicu penguapan berlebih. Sebagaimana yang kita rasakan saat ini, iklim Indonesia sudah berubah, musim panas dan musim hujan datang tidak menentu. Hujan turun tidak mementu, hingga menyebabkan banjir. Musim panas terlalu kering dan lama, menyebabkan kekeringan di lain tempat.

• Semakin banyak penyakit. Semakin banyak daerah panas, penyakit tropis semakin mudah merebak, contohnya Malaria. Di eropa, amerika, australia; saat musim panas temperatur terlalu tinggi, menyebabkan gelombang panas (angin dengan temperatur mencapai 40oC).

• Keanekaragaman flora fauna terancam. Selain terus dirusaknya habita dan tekanan ain dari manusia, hewan yang tidak terbiasa dengan panas akan berusaha berpindah ke daerah lebih tinggi. Diprediksi 20-30% spesies di dunia tidak mampu bertahan dan kemungkinan akan punah.

• Bertambahnya Rata-rata Tinggi Muka Air Laut. Gabungan ilmuwan dalam IPCCC memperkirakan bahwa dalam pola hidup manusia saat ini hingga akhir abad 21 ini; melelehnya Gletser pegunungan serta memuainya massa air laut akan menyebabkan kenaikan muka air laut antara 21 - 58 cm. Memperburuk banjir dan erosi di kawasan pesisir. Antartika (kutub utara) dan Greenland saat ini juga terbukti sedang meleleh dan menambah jumlah air laut dunia.


Komitmen Generasi Kita untuk Menyelamatkan yang Tersisa

Imiahnya, saat ini sebenarnya Generasi kita sedang menjalani dampak Perubahan Iklim akibat emisi gas para pendahulu kita di abad ke-19 dan 20. Bahkan dalam 25 tahun kedepan ini, diperkirakan temperatur global masih akan terus meningkat 1.5 hingga 2oC. Maka dari itu, Generasi kita harus bisa memberikan kepedulian lingkungan yang jauh lebih baik dari orang tua dan pendahulu kita. Menjadi Generasi yang memiliki rasa bersyukur yang tinggi akan anugerah sumberdaya alam disekitar kita.

Berita buruk yang disampaikan diatas memang berdasarkan prediksi ilmiah semata. Perubahan lingkungan yang benar-benar akan terjadi kita tidak tahu. Namun, bukan berarti kita pasrah menunggu bau asap menjadi api. Jadilah Generasi yang mengambil pelajaran dari keserakahan manusia terhadap lingkungan: mengotori sungai, mendatangkan banjir; membuang sampah sembarangan, datanglah penyakit; mencemari dan menggunakan air berlebihan, sulit dapat air bersih; Merusak terumbu karang, hilanglah ikan dan pariwisata. Pertanyaanya, ‘Apakah generasi-ku siap?’

Perubahan Iklim saat ini terus berjalan bersamaan dengan kita yang terus menggunakan BBM untuk kendaraan dan batubara untuk listrik kita. Untuk mengurangi dampaknya, mau tidak mau, Generasi kita harus bisa mengurangi emisi Gas Rumah Kaca mulai saat ini. Namun ingat, sejalan dengan itu, pencemaran udara, air dan tanah terus berjalan; lingkungan yang bersih dan segar saat ini mahal. Hewan-hewan langka terus diburu, demi kepuasan pribadi dan uang. Hutan kita ditebang habis untuk kertas, buku, dan kotak kemasan di sekitar kita. Tanaman hijau diratakan dengan aspal. Terumbu karang terbengkalai; tidak ada tempat berlindung bagi ikan. Lebih banyak uang untuk membeli kesenangan teknologi ketimbang memelihara lingkungan.


Generasi kita-lah yang menentukan apakah yang sumberdaya alam yang tersisa akan habis ataukah akan lestari. Jangan sampai, pada suatu waktu nanti, pada suatu iklim, kita semua beribadah di masjid yang megah; berangkat dengan kendaraan yang mewah; didalamnya kita berdakwah tentang surga yang indah. Namun, saat itu udara kotor, air tanah kotor, pepohonan dan tanaman tergantikan oleh tembok-tembok besar, udara panas pengap, p.enyakit mudah menjangkit, makanan tidak ada yang segar, ikan tiada di lautan. Menghasilkan satu generasi lagi dengan alam yang lebih sulit. Na’udzubillaahimindzaalik.


Langkah Kecil yang Terkadang Berat , Namun Berdampak Besar

Kita BISA menjadi lebih baik untuk kelestarian lingkungan. Tanyakan pada diri kita ‘Apakah saya siap berubah untuk alam yang lebih baik?’ . Semua dimulai dari diri kita, lalu kemudian sebarkan wujud kesyukuran kita akan anugerah alam ini pada ayah, ibu, kakak, adik, keluarga, teman, masyarakat, pemerintah, negara, dan warga dunia. Sebelumnya, mari mulai diri kita dengan beberapa langkah kecil dibawah ini:


1. Mengurangi emisi GRK = hemat listrik

• Matikan lampu ruangan dan kipas angin ketika tidak digunakan. Gunakan lampu hemat energi.
• Matikan AC ketika tidak digunakan dan naikkan suhunya 2-3 derajat dari biasanya.
• Jika memungkinkan, pastikan alat elektronik terlepas dari sambungan listrik, tidak dalam keadaan ‘standby’


2. Selamatkan air bersih

• Ketika mencuci piring gunakanlah ember atau tutup saluran pembuangan, lihat berapa banyak air yang kita gunakan.
• Gunakan ember ketika mencuci kendaraan ketimbang langsung dari selang, begitupula saat membilas.
• Kurangi mencuci mobil di tempat pencucian otomatis.
• Matikan kran setelah dipakai, jangan biarkan air tetap mengalir dan terbuang ketika sedang menggosok gigi, membersihkan kendaraan, dsb.
• Lakukan pembuatan Biopori di sekitar rumah kita bersama keluarga, untuk membantu menambah cadangan air tanah.
• Untuk menghindari debu, jangan menyirami jalanan dengan air keran; tanamlah pepohonan di depan rumah anda untuk menepis debu dan sirami dengan air secara berkala agar mereka senang.


3. Mengurangi pencemaran udara

• Jangan merokok.
• Jika perjalanan masih memungkinkan ditempuh dengan kaki, hindari penggunaan kendaraan bermotor. Jalan kaki atau bersepeda sangat baik untuk kesehatan.
• Jangan membakar sampah. Selain udara kotor, kita juga melepas racun di udara saat itu.
• Jaga kondisi mesin kendaraan anda. Mesin sehat, konsumsi BBM lebih hemat, lebih sedikit emisi GRK dilepas.
• Membeli barang-barang yang ramah lingkungan dan bebas CFC (kloroflourokarbon). CFC biasa digunakan pada kulkas, AC, hair spray, spray pewangi ruangan, dll.


4. Mengurangi sampah, menggunakan kembali, dan mendaur-ulang

• SELALU buang sampah pada tempatnya. Jika tidak bertemu tempat sampah, simpan di saku, kantong, atas tas anda sampai ada tempat pembuangan sampah.
• Jangan membuang sampah APAPUN di sungai, kali, danau bahkan lautan. Bahkan membuang nasi di laut bisa menggangu pola makan alamiah hewan didalamnya.
• Mulai dari sekarang pisahkan sampah Organik dengan Non-Organik di rumah anda. Ini berarti and perlu lebih dari satu tempat sampah. Namun, hal ini membantu pengelola sampah dalam mendaur-ulang sampah non-organik (plastik, kaleng, gelas, kertas, kardus, styrofoam, botol, dll.)
• Jika punya tabungan lebih, belilah barang-barang yang mengandung bahan dasar hasil daur ulang (recycle material) ketimbang mengincar merk dan trend.
• Mulai sekarang, jangan terima kantong plastik dari pasar swalayan. Gunakan tas belanja, atau wadah permanen lainnya dalam belanja, yang bisa digunakan terus menerus.


5. Penghijauan dan daur ulang

• Sudah berapa pohon-kah anda tanam dalam 5 tahun terakhir? Target-kan penanaman pohon dalam tiap tahunnya. Coba memulai memelihara tanaman pot atatu tanaman kebun. Rasakan perjuangan dalam memelihara daun, batang, serta bunga; dan menjaganya agar selalu sehat.
• Tidak bisa menanam tanaman, belilah ! dan hiasi rumahmu dengan hehijauan.
• Jika memiliki tabungan lebih, gunakan kertas daur ulang. Bayangkan jika satu juta mahasiswa serentak menggunakan 1 rim kertas daur ulang untuk keperluan kampusnya. Dampaknya akan luar biasa untuk mengurangi jumlah hutan yang dibabat untuk kertas.
• Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai). Gunakan dua sisi kertas secara bolak balik ketika mencetak/mencopy.


6. Gunakan teknologi untuk meningkatkan kesadartahuan lingkungan kita

• Bisakah anda menemukan kata-kata bergarisbawah di artikel ini? Jika sudah ketemu, coba cari di Google.com atau Wikipedia.com.

Sumber:
• UNEP. 2007. Climate Change Factsheet. Addressing the Leadership Challenge of CLimate Change. UNHQ, New York, 24 September 2007.
• UNFCCC. 2007. Climate Change: Impacts, Vulnerabilities and Adaptation in Devloping Countries. UNFCCC Secretariate, Bonn.

Kontak Penulis
Siham Afatta
siham.afatta@gmail.com

1 komentar:

  1. pesen yg pas mengingat kondisi jakarta yg skg makin hari makin puanasss....

    BalasHapus